October 4, 2011

ku ingin kan kebenaran itu

jujur aku merasa tak sewajarnya,

apa yang terjadi padaku ….
apa yang kau katakan ….
apa yang kurasakan ….

yang mereka perbincangkan ….
yang dia ceritakan yang kau deklarasikan ….
yang tak bisa kuterima ….

mana yang benar ????
siapa yang benar ????
apa yang benar ????

kau,
dia,
mereka, atau hati ku ….

kebohongankah ini ….
dusta kah ini ….
pengalihan kah ini ….

tapi mengapa …….

October 4, 2011

aku mencintai mu

kilatan murka alam memecah setumpuk keheningan,
mencairkan beku suasana antara kita,

lebih dari setengah jam yang lalu tepatnya,
saat kita mulai mengunci perkataan kita,
mempersilahkan jangkrik-jangkrik berbincang dengan asiknya ….

tak tau sungguh,
harus dimulai darimana,
harus di awali dengan apa,
atau mendendang lagu “mau di bawa kemana”,
tapi tak ingin kudengar tanya mengapa ….

semburat aura gelisah meluncur deras dari tiap pori ku,
mempercepat laju detak jantung ku,

ku tatap sendu wajah mu,
ku coba artikan tiap hembus nafas mu,
ku gambarkan mimpi-mimpi ku dalam gerak mu,

mencari dukungan dari pompaan aliran darah ku,
memperkuat tekad keyakinan ku,

ketika ….
kudengar cicak-cicak mulai mencemooh ku,
kudengar semut-semut ingin mengencingi ku,
kudengar tikus pun memandang remeh pada ku,
ketika itu pula ….
kudengar jiwa mu inginkan kata cinta dari ku,

dan ….
ku dengar ….
kau dengar ….
jangkrik, cicak, semut, tikus pun mendengar ….

ku katakan aku mencintai mu

October 4, 2011

lunglai, jatuh dan tenggelam

aku terdiam dalam kegalauan hati,
meresapi hancurnya karya ku oleh mu ….
sejumput pengharapan, curahan setiap mimpi ku,
beku seketika dalam genggam jemari mu ….

nafas yang tlah menyatu dalam alir langkah mu,
terputus oleh ribuan benalu yang tertanam oleh mu ….
pekik jantung tak lagi bergelora,
syair hati pun tak lagi tersiar ….

merenung, sendiri menikmati kejatuhan ku,
tergopoh berjalan melanjutkan hidup ….

lunglai, jatuh dan tenggelam ….

October 4, 2011

terpuruk, terasing, sendiri

gorong-gorong tempat ku menyepi,
berhias sisa-sisa rumah tangga,
beraroma wewangian menusuk kenyamanan,

aku ditemani tikus-tikus kecil,
berlarian seakan lupa pelik kehidupan,
kecoak mengendap dengan lihainya ….
laiknya seorang agen rahasia,

tertekan bukan kesedihan kurasa ….
tertawa bukan bahagia jua,

membaur akan hal-hal tak berguna,
menyatu menjadi yang tak dianggap ….
ingin rasanya menghimpun memberontak,
alih-alih daya tak jua ada,

tetap terpuruk, terasing, sendiri ….

October 4, 2011

Ingatku akan masa itu

Burung – burung kecil mulai beterbangan menyambut sorot surya fajar …..
Dedaunan pun menangiskan embun kesejukan hari ini,

Gelap berangsur pergi, saat kedua tangan halus nan hangat membelai wajahku ….
Terusap penuh kasih setiap aliran darahku, hingga dingin pagi tak kurasa lagi,
Terlantun lembut merasuki detak jantungku, irama pembangun dari lelapku,
” Bangun mas …… “, ucapnya dengan sejuta sayang penuh pengharapan ….

Digendongnya tubuh mungil ini, tepat ketika mataku belum terbuka sempurna,
Kenyamanan sungguh tak terkira, mengalahkan setiap kemalasan yang melekat pada poriku ….
Tlah disiapkannya dalam wadah bundar besar, air yang dimasaknya jauh sebelum kuterbangun,
Tak panas, tak jua dingin, begitu hangat, walau tak sehangat kasihnya padaku ….

Begitu hati – hati dimandikannya aku, membersihkan setiap peluh di tubuhku,
Dibalut handuk, ku digendongnya lagi, menuju meja rias dengan cermin besar di kamarnya ….
Laiknya pangeran, ku dirias olehnya, agar ku menjadi yang terbaik dibandingkan sebayaku ….
” Anak ku yang ganteng …. “, sembari memakaikan setelan seragam kuning lengkap dengan dasi dan topinya ….

Sebuah tas besar bentuk monyet, yang lebih besar dari badanku pun tlah siap ….
Entah kapan ia mempersiapkan semua kebutuhanku pagi itu, sampai monyet itu mengelantung di pundakku ….

Tangan – tangan halus itu kini menyuapkan sarapan pagiku,
Walau aku tak bisa tenang, berlari kesana dan kemari tetap saja tak bisa menghancurkan kesabarannya,
Resmi sudah dibekalinya diriku dengan tenaga pagi dan doa yang tak terhingga ….

Kepengurusan pun berganti, bahu nan kekar tlah bersiap merebah di depanku ….
Tempatku bersandar sepanjang jalan menuju tempat pembelajaran,
Sosok lelaki yang terhitung muda memiliki anak sebesar diriku ….
Digendongnya aku menyusuri jalan – jalan desa ….

Terlihat dengan jelas raut wajah bangga, raut wajah lelaki paling beruntung di dunia ….
Kubaca dari detak jantungnya ia ingin mengatakan, ” Inilah anakku ” ….
Membusungkan dadanya menikmati hari – hari nan bahagia,
Disetiap pertemuan dengan sebayaku, ku tahu, ia bergumam, ” anakku yang terbaik …. “,
Berbalut sejuta senyum yang menutupi kegarangannya ….

Hingga sampai di sebuah Taman Kanak – Kanak, yang menjadi awal proses pembelajaranku,
ingatku akan masa itu …..

October 4, 2011

melody lagu kita

seiring tiap langkah yang semakin membatu mengisi setiap kekosongan sudut jalan,
begitu merapuh menghindari terpaan silih berganti ….

kekosongan yang semakin nyata,
menyelimuti tiap tabir antara kita ….
begitu tajam menusuk pencitraan kebersamaan,

kokoh kesatuan mimpi pun terlihat memudar,
kala setiap ego mimpi menjadi primary …..
menyibak setiap semak penyimpan asa bersama ….

entah badai mulai lembut,
ataukah sepoi yang kian menderu ….
tapi yang jelas ini tak lazim …..

berawal dari dimana kita dipertemukan,
menjadi pembuka setiap penggal kisah teralun melody kebahagiaan ….
mengalir lembut dalam hati setiap kita ….

seakan tlah melewati 2 kali reff,
akan kah lagu ini terhenti begitu saja ….

lampau, kini dan nanti ….
adalah tiap kita yang menentukan

+ +

February 1, 2011

Iba ku pada Mu ( portal )

Dengan atau tanpa disengaja telah dikutip dari Software Manual User ( Universitas Gadjah Mada ); PORTAL AKADEMIK ( Panduan bagi Mahasiswa ), :

” Portal Akademik Universitas Gadjah Mada ( UGM ), merupakan sebuah sistem informasi yang berfungsi sebagai integrator informasi akademik yang ada di berbagai akademik ( Program Studi / Fakultas ) sekaligus sebagai sarana komunikasi antar civitas akademika kampus. Sistem ini dibangun dari kondisi eksistensi informasi akademik di kampus yang sangat beragam dan bervariasi bentuknya, sehingga membutuhkan sebuah ” portal ” yang akan mengintegrasikan informasi – informasi tersebut sehingga mempermudah akses publik. “

Tepat ketika kuinjakkan kakiku di kampus impian, tepat saat itu pula aku mengenal Mu ( Portal ). Gaya Mu ( Portal ) yang elegan membuat semua mahasiswa segan. Biru warna Mu ( Portal ), terkuas jelas penuh nada pada raga Mu ( Portal ). Kau gambaran kemegahan sebuah kampus kerakyatan, kau gambaran modernisasi kampus Pancasila.

” Selamat Datang di Portal Akademik. Portal Akademik adalah sistem yang memungkinkan para civitas akademika Universitas Gadjah Mada untuk menerima informasi dengan lebih cepat melalui Internet. Sistem ini diharapkan dapat memberi kemudahan setiap civitas akademika untuk melakukan aktivitas-aktivitas akademik dan proses belajar mengajar. Selamat menggunakan fasilitas ini. “,
itulah sapa lembutmu padaku, aku berharap banyak pada Mu ( Portal ), bahkan mungkin terlalu banyak. Hingga aku melupakan elemen – elemen penting pada diri Mu ( Portal ). Aku mengabaikan kalimat singkat Mu ( Portal ) yang ternyata mendiamkanku dari iba ku pada Mu ( Portal ).

Sistem ini diharapkan dapat memberi kemudahan setiap civitas akademika untuk melakukan aktivitas-aktivitas akademik dan proses belajar mengajar.

Diharapkan, ….
Sebuah pengharapan tak selamanya tercapai, sebuah pengharapan bisa saja selalu menjadi harapan. Harap penuh harap pada Mu ( Portal ). Mungkin memang tak banyak yang mengharapkan Mu ( Portal ).

Tak ada yang kau lakukan lagi setelah tanggal itu, tak ada yang kau lakukan lagi setelah bulan itu, bahkan tak ada lagi yang kau lakukan setelah tahun itu, 17 Agustus 2010. Kau diam sejak hari itu, kau tertidur tak berdaya.

Ini posting terakhir Mu ( Portal ) :
Ganguan Teknis pada Server Akademika
17 Agustus 2010
Kami selaku pengelola akademika.ugm.ac.id memohon maaf atas ketidaknyamanan sivitas akademika dalam mengakses layanan Portal Akademik pada Senin 16 Agustus 2010 antara jam 08:00-14:00 WIB.

Dikarenakan kendala teknis, server akademika tidak dapat memberikan layanan terbaik kepada sivitas akademika. Oleh karena itu, dalam rangka menunjang kelancaran proses KRS, untuk sementara layanan Portal Akademik ditempatkan di server UM UGM.

Demikian informasi dari kami,
terimakasih “

Kau mati suri …. ( Portal )

Untung saja, untung seribu kali untung, Mahasiswa masih peduli pada Mu ( Portal ). Kami peduli pada Mu ( portal ).
Berikanlah kami yang terbaik dari Mu ( Portal ) ….

January 30, 2011

Peragawati Simpang Empat

Hembus udara pagi kota Yogya, semburat semangat pengharapan kotanya kaum cendekiawan. Tiap pribadi beranjak dari tempatnya, setiap pribadi melakukan aktivitasnya.

Sekitar terasa dingin, menusuk tiap pori lapisan kulitku, kala mata ini baru saja terbuka. ( Aku seorang mahasiswa salah satu Universitas Negeri di Yogyakarta ). Malas seketika mewabah ke setiap sel tubuhku, mengorganisasikan tubuhku dengan sangat kuatnya untuk tak bergeser sedikitpun dari tempat tidurku. Ini bukan yang kumau, tapi apa boleh buat. Ini tak seharusnya kulakukan, tapi apa boleh buat. Pergolakan dalam diriku melawan wabah paling berbahaya ini pun mewaranai tiap pagiku. Peperangan di kawah candradimuka menjadi awal kulalui hari – hariku. Kadang aku menang, walau acapkali wabah itu menguasai tiap elemen dalamtubuhku, termasuk otakku yang mengatur setiap keinginanku.

Pagi itu kala kemenanganku tersiar ke seluruh dunia gilaku, aku menang melawan wabah itu. Kuberanikan diri menuju tempat paling menakutkan di pagi hari, apalagi kalau bukan kamar mandi. Kamar mandi yang menyediakan sejuta siksaan pagi hari. Kuputuskan untuk segera mandi, karena aku ada kuliah jam 7 pagi. Setelah kulalui ujan kamar mandi, terasa lega sungguh, ujian paling sukar di tiap pagiku. Segera aku berpakaian serapi mungkin laiknya mahasiswa pada umumnya dan kukendarai motor matic kesayanganku dengan warna lautnya terlihat indah memantulkan cahaya mentari. Beberapa saat aku telah membaur ke dalam kerumunan kendaraan yang sesak memadati jalan. Sebuah ujian kesabaran tingkat dasar yang harus kulalui, MACET. Menghadapi kemacetan dengan tetap anggun. Kutanggapi ketidaknyamanan ini dengan mentransformasikannya ke dalam lagu lembutnya Katon Bagaskara, tentang kota ini Yogyakarta.

Pukul 06.55, aku tiba di lampu merah terakhir sebelum kampus. Sebuah simpang empat yang tak begitu besar, sebuah simpang empat di kawasan Jetis. 80 detik memaksaku menunggu di simpang empat padat ini. Menungu kendaraan dari barat melaju, lalu dari utara, lalu dari timur, ahhh pusing kalau aku harus mengikuti undang – undang simpang empat ini.

Kualihkan segera pandanganku ke sekitaran untuk menghindari kepusingan yang berkelanjutan. Apalagi yang harus dilihat di sebuah pemberhentian simpang empat seperti ini, pasti ada musisi jalanan ( seniman jalanan ), pecinta kebersihan, dan orang – orang yang memberi kesempatan bagi setiap pengendara untuk bersedekah. Tiba – tiba pandanganku berbalik ke arah yang sebelumnya aku lihat, kutemukan sesosok perbedaan yang belum aku sebutkan. Sosok mulai detik ini mengambil paksa perhatianku hingga hijau nanti berkuasa.

Wanita itu mengambil alih perhatianku. Berjalan lenggak lenggok laiknya kucing yang ada di kampusku. Berbusana tak biasa untuk tempat sebiasa ini. Tapi yang jelas dia memperindah simpang empat Jetis. Dia sosok pembuat beda simpang empat ini dengan simpang empat yang lainnya. Sepatu kain dengan warna indah melekat pada kedua kakinya. Sepatu yang menjadi kesukaan gadis – gadis muda jaman sekarang. Celana panjang dengan potongan sempurna berbalut warna yang seirama dengan sepatunya pun tergelar menutupi kedua kaki panjangnya. Baju kaos yang ia kenakan pun tampak serasi dengan celana panjangnya, baju kaos berlengan panjang menutupi kedua tangannya. Berlengkapkan dua buah kaos tangan lengkap sudah menutupi tiap bagian dari tangannya. Hiasan rambutnya sangat sederhana namun indah kurasa. Sebuah kerudung dengan warna senada dikombinasikan dengan topi bebek berwarna serupa.

Sedang apa pula wanita ini di sini, pikirku. Ia berjalan perlahan bergaya tak asing bagiku. Aku pikirkan beberapa saat, berusaha menyalakan bohlam lampu di otakku. Ahhaaaa …. bohlam pun menyala tak redup. Situasi ini, kondisi ini, tak ayal mengingatkanku pada sebuah Peragaan Busana, para Peragawati yang berjalan bagai kucing di jalannya para kucing.

Amazing ( read : amajing ), wanita luar biasa, biasa tidur di luar ( mungkin ). Dia ubah simpang empat padat ini menjadi sebuah panggung pertunjukkan miliknya. Dengan pembatas jalan disulapnya menjadi jalan kucing, untuknya berlenggok gaya menyapa setiap pengunjung panggung simpang empat ini. Musik dari para seniman jalanan tak pernah terhenti saat aksinya berlangsung, mungkin para seniman jalanan itu tak sadar kalau tanpa sengaja telah mendongkrak sebuah konser yang empunya panggung ini, wanita yang mencuri 80 detik perhatianku. Sungguh simpang empat yang mengusir segala rasa bosan. Wanita itu, ya wanita itu yang membuat segalanya beda, dialah Peragawati Simpang Empat. Mulai dari busana yang ia kenakan, dari atas hingga bawah yang memberi warna tersendiri untuk 80 detikku, hingga aksi lenggoknya, aksi seorang Peragawati Simpang Empat.

Wanita yang kutaksir berusia 30 tahun itu, memperagakan busana yang ia kenakan diselingi sesekali mendatangi penonton untuk barter uang dengan koran/ majalah/ tabloid yang sedari tadi tergeletak di genggamannya, yang setia menemani aksi panggungnya.

Tanpa terasa 80 detik yang menyenangkan itu berlalu begitu saja, kulanjutkan laju kendaraanku menuju kampus yang telah menantiku. Walhasil, seperti yang sudah kuduga, seperti hari – hari biasanya, aku terlambat kuliah pagi ini ( kalimat yang hampir saja menjadi slogan hidupku ).

January 27, 2011

Ibu …. akankah ku lihat marah Mu ….

” ingin, ku sibakkan kelopak mata ini menyambut elok sang mentari bersama dekap hangat pelukanmu …….. IBU “

Desir mendesir mengalir kencang dalam alir darahku, kala nama Mu tersebut, kala bayang Mu terlintas, kala butir kasih Mu terasa menjamah tiap elemen tubuh ku. Lagi, terputar rekaman nostalgia memory kebersaman ku dengan Mu ….

Kau wanita laiknya mereka, kau perwakilan nyata dari kaum Mu, kaum yang mereka serukan sebagai kaum yang lemah, kaum yang terdendang dalam lagu sebagai objek penindasan ….

Tapi ……. tak bagiku, tak berlaku untuk ku, tak merubah sedikit pun cara ku menilai Mu.

Kau gambaran nyata kekuatan dalam hidup ku, kau jelaskan arti ketegaran dalam hembus nafas Mu, kau ajarkan ketakterbatasan sebuah kata syarat makna ” sabar “, pada ku. Kau ukir sebuah jalan nan indah untuk ku tempuh, kau anyam selimut kehangatan dengan kasih sayang Mu, kau jaga aku ……. kau dekap tubuh rapuh ku.

Ibu ……. akankah ku lihat marah Mu ????

Sejak ku merasakan segar udara dunia, hingga detik ku lepas tiupan surga dari raga ku, akankah sempat ku lihat marah Mu ……. . Saat aku bersalah, senyum Mu yang ku lihat. Saat ku nakal, hangat belaian Mu yang ku rasa. Saat ku tak dapat di ampuni lagi ……. kau berkata, ” jangan diulangi lagi nak ” sembari mendekap tubuh mungil ku.

Mengapa kau tak marah ???? Mengapa pula kau begitu menyayangi ku ….

Aku anak Mu yang nakal Ibu ……. Aku anak Mu yang selalu dan selalu melakukan kesalahan. Aku yang sering membatah perintah Mu. Aku yang sering tanpa sengaja menyakiti hati MU ….

Apa kau tak marah Ibu ???? Apa kau malaikat surga yang bertugas di dunia ini ????

Aku takut bu ……. aku takut. Aku takut akan marah Mu Ibu ……. takut. Walau ku tau semua amarah Mu telah kau buang bersama darah yang keluar saat kau melahirkan ku. Tapi aku tetap saja takut ….

Ku ingin peluk Mu slalu, ku ingin kasih Mu slalu, ku ingin sayang Mu slalu untuk ku ….

Maaf bu ……. maafkan kesalahan anak Mu ini. Anak kecil Mu yang tak lucu lagi. Anak lelaki Mu yang tak bisa kau timang lagi ….

Aku ingin kasih ku pada Mu setara dengan kasih Mu pada ku. Sebuah kasih tiada tara, sebuah kasih tiada duanya, sebuah kasih ……. sepanjang masa ….

sing a song :
kasih Ibu …. kepada beta
tak terhingga sepanjang masa ….
hanya memberi ….
tak harap kembali ….
bagai sang surya, menyinari dunia ….

sing a song :
kau memberikanku hidup
kau memberikanku kasih sayang
tulusnya cintamu, putihnya kasihmu
takkan pernah terbalaskan

hangat dalam dekapanmu
memberikan aku kedamaian
eratnya pelukmu, nikmatnya belaimu
takkan pernah terlupakan
reff:
oh ibu …. terima kasih
untuk kasih sayang yang tak pernah usai
tulus cintamu takkan mampu
untuk terbalaskan
oh ibu …. semoga tuhan
memberikan kedamaian dalam hidupmu
putih kasihmu kan abadi
dalam hidupku repeat reff
ooohh putih kasihmu kan abadi
dalam hidupku

Terima kasih …. Ibu ( dari ku anak Mu )

June 19, 2010

if your jobs is not not your career or if your couple is not your love

kudapat tulisan lucu dari seorang teman, yang merupakan salah satu sahabat terbaikku, Dwi Ari Setyo Nugroho,

if your jobs is not not your career or if your couple is not your love
pernyataan itu menggelitik saya akhir-akhir ini. Entah mengapa dan ada apa dengan pernyataan ini sampai berhari-hari saya memikirkan kata-kata ini (sedikit lebay).

Ya …. mungkin ini terkait dengan 3 keputusan besar yang akan menentukan arah kehidupan kita nantinya.
1. keputusan memilih jalur pendidikan
2. keputusan memilih pekerjaan
3. keputusan memilih pasangan hidup.

Dimulai dari keputusan memilih jalur pendidikan, sebenarnya banyak diantara kita atau juga termasuk saya memilih jalur pendidikan yang bukan merupakan keinginan kita. Ini mungkin akan menjadikan arah hidup kita sedikit berbeda dari yang kita rencanakan sebelumnya. Namun ini tak perlu dijadikan masalah besar atau beban pikiran, mungkin kita masih bisa menjadi seperti yang kita inginkan. Misal kita pengen jadi dokter tapi gak keterima di FK dan akhirnya kuliah di psikologi, kita masi bisa menjadi psikolog klinis yang bekerja di rumah sakit. Hampir sama kan dengan pekerjaan dokter. hehehe ….

Begitu pula dengan pekerjaan, bila pekerjaan kita sekarang belum sesuai dengan “passion” kita. Mungkin bercita-cita jadi guru, eh …. malah kerja jadi marketing atau pegawai HRD. Saya kira ini juga tak perlu dirisaukan, sebab kita masih bisa menyalurkan passion kita sebagai guru dengan mengajarkan orang lain bagaimana caranya jadi marketing yang baik atau bisa jadi trainer. Intinya pembagian waktu dan prioritas kebutuhan jadi modal utama untuk menyalurkan passion kita.

Nah sekarang bagaimana dengan cinta???

Bagaimana jika ternyata pasangan kita tak sesuai dengan passion kita atau bisa dibilang tak 100% cinta kita untuk dirinya. Hmmm …. agak rumit rupanya. Tak mungkin jika kita menyalurkan passion kita pada orang lain jika kita sudah menikah. Lalu bagaimana solusinya,,,setelah bertahun-tahun saya pikirkan ternyata lebih baik kita memilih pasangan yang benar-benar kita cinta daripada memilih yang kita butuhkan. ” need because love is better than love because need “
karena dengan cinta kita yang 100% itu, kesengsaraan, kesedihan ataupun kekurangan dalam menjalani kehidupan akan terasa lebih ringan jika kita benar-benar mencintai pasangan kita. Dan mungkin itu tidak akan ditemui pada pasangan yang memilih berdasarkan love because need…pernyataan ini tidak sembarangan saya buat. Hal ini berdasarkan analisis saya terhadap fenomena-fenomena yang terjadi dan sedikit pengalaman pribadi saya. Lalu bagaimana denganmu kawan???

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.