Hembus udara pagi kota Yogya, semburat semangat pengharapan kotanya kaum cendekiawan. Tiap pribadi beranjak dari tempatnya, setiap pribadi melakukan aktivitasnya.
Sekitar terasa dingin, menusuk tiap pori lapisan kulitku, kala mata ini baru saja terbuka. ( Aku seorang mahasiswa salah satu Universitas Negeri di Yogyakarta ). Malas seketika mewabah ke setiap sel tubuhku, mengorganisasikan tubuhku dengan sangat kuatnya untuk tak bergeser sedikitpun dari tempat tidurku. Ini bukan yang kumau, tapi apa boleh buat. Ini tak seharusnya kulakukan, tapi apa boleh buat. Pergolakan dalam diriku melawan wabah paling berbahaya ini pun mewaranai tiap pagiku. Peperangan di kawah candradimuka menjadi awal kulalui hari – hariku. Kadang aku menang, walau acapkali wabah itu menguasai tiap elemen dalamtubuhku, termasuk otakku yang mengatur setiap keinginanku.
Pagi itu kala kemenanganku tersiar ke seluruh dunia gilaku, aku menang melawan wabah itu. Kuberanikan diri menuju tempat paling menakutkan di pagi hari, apalagi kalau bukan kamar mandi. Kamar mandi yang menyediakan sejuta siksaan pagi hari. Kuputuskan untuk segera mandi, karena aku ada kuliah jam 7 pagi. Setelah kulalui ujan kamar mandi, terasa lega sungguh, ujian paling sukar di tiap pagiku. Segera aku berpakaian serapi mungkin laiknya mahasiswa pada umumnya dan kukendarai motor matic kesayanganku dengan warna lautnya terlihat indah memantulkan cahaya mentari. Beberapa saat aku telah membaur ke dalam kerumunan kendaraan yang sesak memadati jalan. Sebuah ujian kesabaran tingkat dasar yang harus kulalui, MACET. Menghadapi kemacetan dengan tetap anggun. Kutanggapi ketidaknyamanan ini dengan mentransformasikannya ke dalam lagu lembutnya Katon Bagaskara, tentang kota ini Yogyakarta.
Pukul 06.55, aku tiba di lampu merah terakhir sebelum kampus. Sebuah simpang empat yang tak begitu besar, sebuah simpang empat di kawasan Jetis. 80 detik memaksaku menunggu di simpang empat padat ini. Menungu kendaraan dari barat melaju, lalu dari utara, lalu dari timur, ahhh pusing kalau aku harus mengikuti undang – undang simpang empat ini.
Kualihkan segera pandanganku ke sekitaran untuk menghindari kepusingan yang berkelanjutan. Apalagi yang harus dilihat di sebuah pemberhentian simpang empat seperti ini, pasti ada musisi jalanan ( seniman jalanan ), pecinta kebersihan, dan orang – orang yang memberi kesempatan bagi setiap pengendara untuk bersedekah. Tiba – tiba pandanganku berbalik ke arah yang sebelumnya aku lihat, kutemukan sesosok perbedaan yang belum aku sebutkan. Sosok mulai detik ini mengambil paksa perhatianku hingga hijau nanti berkuasa.
Wanita itu mengambil alih perhatianku. Berjalan lenggak lenggok laiknya kucing yang ada di kampusku. Berbusana tak biasa untuk tempat sebiasa ini. Tapi yang jelas dia memperindah simpang empat Jetis. Dia sosok pembuat beda simpang empat ini dengan simpang empat yang lainnya. Sepatu kain dengan warna indah melekat pada kedua kakinya. Sepatu yang menjadi kesukaan gadis – gadis muda jaman sekarang. Celana panjang dengan potongan sempurna berbalut warna yang seirama dengan sepatunya pun tergelar menutupi kedua kaki panjangnya. Baju kaos yang ia kenakan pun tampak serasi dengan celana panjangnya, baju kaos berlengan panjang menutupi kedua tangannya. Berlengkapkan dua buah kaos tangan lengkap sudah menutupi tiap bagian dari tangannya. Hiasan rambutnya sangat sederhana namun indah kurasa. Sebuah kerudung dengan warna senada dikombinasikan dengan topi bebek berwarna serupa.
Sedang apa pula wanita ini di sini, pikirku. Ia berjalan perlahan bergaya tak asing bagiku. Aku pikirkan beberapa saat, berusaha menyalakan bohlam lampu di otakku. Ahhaaaa …. bohlam pun menyala tak redup. Situasi ini, kondisi ini, tak ayal mengingatkanku pada sebuah Peragaan Busana, para Peragawati yang berjalan bagai kucing di jalannya para kucing.
Amazing ( read : amajing ), wanita luar biasa, biasa tidur di luar ( mungkin ). Dia ubah simpang empat padat ini menjadi sebuah panggung pertunjukkan miliknya. Dengan pembatas jalan disulapnya menjadi jalan kucing, untuknya berlenggok gaya menyapa setiap pengunjung panggung simpang empat ini. Musik dari para seniman jalanan tak pernah terhenti saat aksinya berlangsung, mungkin para seniman jalanan itu tak sadar kalau tanpa sengaja telah mendongkrak sebuah konser yang empunya panggung ini, wanita yang mencuri 80 detik perhatianku. Sungguh simpang empat yang mengusir segala rasa bosan. Wanita itu, ya wanita itu yang membuat segalanya beda, dialah Peragawati Simpang Empat. Mulai dari busana yang ia kenakan, dari atas hingga bawah yang memberi warna tersendiri untuk 80 detikku, hingga aksi lenggoknya, aksi seorang Peragawati Simpang Empat.
Wanita yang kutaksir berusia 30 tahun itu, memperagakan busana yang ia kenakan diselingi sesekali mendatangi penonton untuk barter uang dengan koran/ majalah/ tabloid yang sedari tadi tergeletak di genggamannya, yang setia menemani aksi panggungnya.
Tanpa terasa 80 detik yang menyenangkan itu berlalu begitu saja, kulanjutkan laju kendaraanku menuju kampus yang telah menantiku. Walhasil, seperti yang sudah kuduga, seperti hari – hari biasanya, aku terlambat kuliah pagi ini ( kalimat yang hampir saja menjadi slogan hidupku ).