kilatan murka alam memecah setumpuk keheningan,
mencairkan beku suasana antara kita,
lebih dari setengah jam yang lalu tepatnya,
saat kita mulai mengunci perkataan kita,
mempersilahkan jangkrik-jangkrik berbincang dengan asiknya ….
tak tau sungguh,
harus dimulai darimana,
harus di awali dengan apa,
atau mendendang lagu “mau di bawa kemana”,
tapi tak ingin kudengar tanya mengapa ….
semburat aura gelisah meluncur deras dari tiap pori ku,
mempercepat laju detak jantung ku,
ku tatap sendu wajah mu,
ku coba artikan tiap hembus nafas mu,
ku gambarkan mimpi-mimpi ku dalam gerak mu,
mencari dukungan dari pompaan aliran darah ku,
memperkuat tekad keyakinan ku,
ketika ….
kudengar cicak-cicak mulai mencemooh ku,
kudengar semut-semut ingin mengencingi ku,
kudengar tikus pun memandang remeh pada ku,
ketika itu pula ….
kudengar jiwa mu inginkan kata cinta dari ku,
dan ….
ku dengar ….
kau dengar ….
jangkrik, cicak, semut, tikus pun mendengar ….
ku katakan aku mencintai mu