Burung – burung kecil mulai beterbangan menyambut sorot surya fajar …..
Dedaunan pun menangiskan embun kesejukan hari ini,
Gelap berangsur pergi, saat kedua tangan halus nan hangat membelai wajahku ….
Terusap penuh kasih setiap aliran darahku, hingga dingin pagi tak kurasa lagi,
Terlantun lembut merasuki detak jantungku, irama pembangun dari lelapku,
” Bangun mas …… “, ucapnya dengan sejuta sayang penuh pengharapan ….
Digendongnya tubuh mungil ini, tepat ketika mataku belum terbuka sempurna,
Kenyamanan sungguh tak terkira, mengalahkan setiap kemalasan yang melekat pada poriku ….
Tlah disiapkannya dalam wadah bundar besar, air yang dimasaknya jauh sebelum kuterbangun,
Tak panas, tak jua dingin, begitu hangat, walau tak sehangat kasihnya padaku ….
Begitu hati – hati dimandikannya aku, membersihkan setiap peluh di tubuhku,
Dibalut handuk, ku digendongnya lagi, menuju meja rias dengan cermin besar di kamarnya ….
Laiknya pangeran, ku dirias olehnya, agar ku menjadi yang terbaik dibandingkan sebayaku ….
” Anak ku yang ganteng …. “, sembari memakaikan setelan seragam kuning lengkap dengan dasi dan topinya ….
Sebuah tas besar bentuk monyet, yang lebih besar dari badanku pun tlah siap ….
Entah kapan ia mempersiapkan semua kebutuhanku pagi itu, sampai monyet itu mengelantung di pundakku ….
Tangan – tangan halus itu kini menyuapkan sarapan pagiku,
Walau aku tak bisa tenang, berlari kesana dan kemari tetap saja tak bisa menghancurkan kesabarannya,
Resmi sudah dibekalinya diriku dengan tenaga pagi dan doa yang tak terhingga ….
Kepengurusan pun berganti, bahu nan kekar tlah bersiap merebah di depanku ….
Tempatku bersandar sepanjang jalan menuju tempat pembelajaran,
Sosok lelaki yang terhitung muda memiliki anak sebesar diriku ….
Digendongnya aku menyusuri jalan – jalan desa ….
Terlihat dengan jelas raut wajah bangga, raut wajah lelaki paling beruntung di dunia ….
Kubaca dari detak jantungnya ia ingin mengatakan, ” Inilah anakku ” ….
Membusungkan dadanya menikmati hari – hari nan bahagia,
Disetiap pertemuan dengan sebayaku, ku tahu, ia bergumam, ” anakku yang terbaik …. “,
Berbalut sejuta senyum yang menutupi kegarangannya ….
Hingga sampai di sebuah Taman Kanak – Kanak, yang menjadi awal proses pembelajaranku,
ingatku akan masa itu …..